Tak
dapat disangkal bahwa Borussia Dortmund telah menjelma menjadi salah
satu tim yang disegani di Eropa dalam 3 musim terakhir. Dua gelar back-to-back
Bundesliga musim 2010-11 dan 2011-12 serta satu gelar Piala Jerman jadi
bukti konkret. Nyaris bangkrut pada tahun 2005, BVB perlahan bangkit
dan kembali naik ke papan atas Bundesliga. Tapi penampilan perdana mereka di
UCL pada musim 2011-12 (setelah absen lama) harus berujung pada
kegagalan, finis di posisi terakhir Grup F yang juga dihuni Arsenal,
Marseille, dan Olympiacos.
BVB
mau belajar dari kegagalan tersebut, mereka berbenah, dan akhirnya
menjalani kompetisi akbar Eropa musim ini dengan cukup sukses. Dari 9
laga yang telah mereka jalani (hingga laga pertama 1/4 final), Marco Reus cs. meraih 6 kemenangan dan 3
hasil imbang. Dengan kumpulan pemain muda dan berpengalaman yang solid,
dan pelatih cerdik bernama Jürgen Klopp, Dortmund bisa saja melenggang
ke laga puncak di Wembley. Ya, final liga Champions. Kenapa tidak? Soal
juara itu urusan nanti, laga final bisa jadi opsi realistis buat tim
yang jersey-nya sekilas mirip lebah madu ini. Berikut adalah 6 alasan (in random order)
yang bisa jadi tolok ukur kenapa Die Borussen layak melaju ke final UCL
2012-13.
1. Lini Belakang yang Solid.
Barisan back-four
BVB bisa dibilang lumayan konsisten musim ini. Okelah di Bundesliga
mereka masih kalah ketimbang FSV Mainz 05 dan Bayern Muenchen dalam
urusan siapa yang paling sedikit kemasukan. Tapi di Liga Champions, lini
pertahanan Dortmund termasuk sulit ditembus oleh lawan.
Faktor Lukasz Pisczsek dan Marchel Schmelzer di kedua sayap yang tak terlalu sering ikut maju ke depan ketika Dortmund melakukan serangan sedikit banyak menutup ruang pergerakan para winger lawan. Belum lagi di bagian tengah pertahanan terdapat salah satu 5 bek terbaik dunia, Mats Hummels dan juga duetnya, 'the underrated' Neven Subotic. Solid-nya keempat pemain ini masih dibantu oleh pengalaman Roman Weidenfeller di bawah gawang yang juga kerap membuat saves penting meski usianya tak lagi muda. BVB sendiri baru kemasukan 7 kali dari 9 laga UCL yang telah mereka lalui sejauh ini.
2. Jürgen Klopp.
Klopp
mulai melatih Dortmund pada awal musim 2008, menggantikan posisi Thomas
Doll yang lengser. Pengalaman Klopp dalam dunia kepelatihan sebelumnya adalah melatih FSV Mainz 05
selama 7 musim, satu-satunya klub yang juga ia bela ketika masih menjadi
pemain. Kepercayaan presiden klub, Reinhard Rauball, beserta staf dan
para suporter membuat Klopp melalui musim-musimnya di lembah Ruhr dengan
begitu baik, termasuk 2 gelar Bundesliga yang membuat namanya kian
populer di ranah sepakbola.
Idealisme Klopp dalam meracik strategi patut diacungi jempol, belum lagi kemampuannya menyatukan ego pemain muda dan berpengalaman di skuad Die Borussen membuat dia mendapat respek penuh dari para pemain. Kejeliannya dalam mengganti formasi dan pemain di tengah laga juga tak jarang berbuah positif. Ia seperti tak pernah kehabisan ide dalam meramu resep demi hasil sempurna buat timnya. Klopp adalah seorang pelatih yang mempunyai prinsip bahwa para pemain harus memberikan 100 persen yang mereka punya, apapun level pertandingan yang mereka jalani.
3. 'Group of Death' dan Mental Pemenang.
Berada
satu grup dengan 3 tim raksasa: Real Madrid, Manchester City, dan Ajax
Amsterdam tak membuat nyali BVB ciut. Alih-alih mengeluh, Dortmund
memilih untuk belajar dari kegagalan mereka di UCL musim lalu dan
berhasil meraih 14 dari kemungkinan maksimal 18 poin yang bisa diraih.
Meraih hasil imbang di Santiago Bernabeu dan Etihad Stadium juga jadi
catatan positif mereka. Bukan tak mungkin hal ini membuat mental pemenang Dortmund terasah dan bisa menjadi bekal positif buat tim kuning-hitam di fase knock-out.
Mario Gotze cs. sendiri melanjutkan tren positifnya di babak knock-out dengan tidak pernah kalah dalam 2 laga melawan Shakhtar Donetsk dan satu laga away di La Rosaleda ketika melawan Malaga. Yes, now they're the only unbeaten team left on the quarterfinal.
Tapi jangan sampai rekor ini membuat mereka besar kepala, karena jika
Dortmund lolos ke semifinal, tim raksasa lain seperti Real Madrid atau
Bayern Munchen siap menghadirkan kekalahan pertama.
4. Permainan Atraktif nan Menghibur.
Apa yang anda harapkan ketika mempunyai trio Mario Gotze, Marco Reus, dan Jakub Błaszczykowski (thank you Wikipedia for spell his name right) dalam tim yang sama? Tiga key-passer
yang kerap saling bertukar posisi sepanjang laga ini jadi kunci penting
atas terciptanya gol-gol Robert Lewandowski, atau bahkan gol yang mereka
cetak sendiri.
Belum lagi kembalinya si anak hilang, Nuri Sahin, yang punya kreatifitas dalam membangun serangan dan bertahan sama baiknya. Di sisi yang lebih dalam, Die Borussen punya Ilkay Gundogan dan Sebastian Kehl (kerap dirotasi dengan Sven Bender) yang punya peran penting dalam menghalau serangan lawan serta memberikan umpan panjang ke lini depan. Meski akurasi umpan mereka tak bisa disandingan dengan FC Barcelona, aliran bola yang Dortmund hadirkan di lini tengah mereka termasuk salah satu yang terbaik di Eropa. Rataan possession ball yang mencapai 57% di Champions League musim ini bisa jadi bukti.
5. Signal Iduna Park.
Inilah
kandang keramat Borussia Dortmund yang tingkat kehadiran penontonnya
nyaris selalu 100 persen tiap BVB bermain, baik di kompetisi Jerman
maupun UCL. Rataan penonton tiap laga yang mencapai 80.451 orang jelas
membuat tim lawan manapun bisa menjadi 'jiper' melihat lautan manusia
dengan balutan berwarna kuning berteriak "Heja, Heja, Heja!" dan terus
meneror mereka selama 90 menit.
Patut dicatat bahwa rataan penonton tersebut adalah yang tertinggi di liga manapun di Eropa, mengungguli Old Trafford maupun Camp Nou yang sebenarnya tak kalah ramai jika si pemilik stadion bertanding. Boleh saja Signal Iduna Park penuh dengan bau bir dari mulut para suporter BVB yang berteriak sepanjang laga, tapi selama sang empunya stadion meraih hasil positif, itu tak masalah bukan?
6. Konsentrasi Penuh di Liga Champions.
Setelah
menjalani 2 musim nan menggembirakan di Bundesliga, BVB nampaknya harus
merelakan gelar liga musim ini jatuh ke tangan Bayern Muenchen. Jarak
poin yang terlalu jauh sudah mustahil dikejar dan ini membuat BVB bisa
fokus secara penuh ke ajang UCL. Terlebih lagi Dortmund tentu
bermotivasi ingin mengulang sukses UCL musim 1996-97 kala menjadi juara
dengan mengalahkan Juventus 3-1 di final. Konsesntrasi penuh dan
motivasi bisa menjadi fusion yang pas buat Dortmund untuk berangkat menuju Wembley.
**
Tapi
tentu saja selain 6 alasan di atas, Dortmund juga memiliki beberapa hal
yang bisa membuat mereka terpeleset. Problem inkonsistensi, faktor
cedera pemain, serta kepercayaan diri terlalu tinggi yang bisa jadi
bumerang adalah beberapa di antaranya. Dan misalkan tak lolos ke final
pun, Dortmund sudah berhasil menunjukkan identitas mereka sebagai
calon tim besar Eropa dan meneruskan tren positif Bayern Muenchen dan
Schalke 04 sebagai klub Jerman di Champions League dalam beberapa tahun
terakhir.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar