Sepakbola adalah sebuah olahraga yang membutuhkan kecepatan dan akurasi umpan untuk mencetak sebuah gol. Tak jarang pola serangan dibangun dari sisi samping lapangan dimana para pemain sayap wajib mengoptimalkan bola dari area tersebut. Namun patut dicermati bahwa di era sepakbola sekarang fungsi dari pemain sayap murni alias traditional winger mulai terpinggirkan. Bukan, bukan karena tak ada generasi baru dalam posisi tersebut, tapi lebih disebabkan oleh dominan-nya penguasaan bola dan penggunaan umpan-umpan datar nan pendek yang kini dinilai lebih efektif ketimbang crossing (umpan lambung).
Formasi 4-2-3-1 kini seolah menjadi primadona bagi para pelatih untuk membangun kesolidan tim. Dua gelandang jangkar penahan bola dan 3 pemain di depannya yang bertugas melancarkan serangan sudah menjadi hal mainstream dan sering kita jumpai dalam sebuah tim. Mungkin hanya tim-tim klasik dari Italia seperti Juventus dan Napoli yang sedikit berbeda dan masih setia menggunakan formasi 3 bek hingga sekarang. Meski begitu, kedua tim papan atas Serie-A tersebut juga lebih mengoptimalkan wing-back prima ketimbang pemain sayap murni dalam formasi mereka.
Tak dapat disangkal, dalam beberapa tahun terakhir keberadaan para traditional winger mulai tergusur secara perlahan. Hanya beberapa dari mereka yang masih 'terlihat' dan setia bermain di posisi natural mereka. Jesus Navas, Arda Turan, Aaron Lennon, dan Franck Ribery adalah mereka yang keukeuh dan menjadi simbol bahwa pemain sayap murni belum benar-benar hilang dari peredaran. Well, we have Ricardo Quaresma too, but I think he's getting worst in last few years, right?. Formasi 4-4-2 sendiri mulai ditinggalkan dan seiring tak digunakannya lagi formasi ini oleh banyak klub, para pemain sayap murni mulai merasakan dampaknya.
Uniknya, tim raksasa Inggris, Manchester United, masih memakai formasi 4-4-2 dan memanfaatkan peran traditional winger dalam diri Antonio Valencia, Luis Nani, dan Ashley Young. Terlepas dari peran Wayne Rooney yang bermain free-role, ketiga pemain tersebut sebenarnya tidak berfungsi maksimal musim ini. Justru Ryan Giggs, salah satu traditional winger terbaik dalam sejarah sepakbola, tampil lebih menonjol ketimbang 3 pemain tersebut. Giggs sendiri kini lebih sering bermain sebagai central midfielder mendampingi Tom Cleverley atau Michael Carrick karena staminanya tak se-eksplosif ketika ia masih muda. Giggsy tak lagi kuat menunjang badannya untuk terus berlari di sisi lapangan selama 90 menit. Jujur saja, Giggs yang kini bukan lagi kereta Shinkansen, ia sudah turun derajat menjadi Eurostar.
Selain MU, tim tradisional Inggris semacam Stoke City juga masih memakai peran pemain sayap murni karena The Potters sudah terbiasa melancarkan long ball dan aerial duel sebagai senjata mereka. Matt Etherington dan Steven N'zonzi (dan juga Jermaine Pennant) diandalkan Tony Pulis untuk menyisir kedua sisi lapangan Britannia Stadium dan stadion lawan dimana si galah Peter Crouch siap menyambut umpan-umpan silang mereka. Namun terlepas kedua klub yang telah disebut, English Premier League juga telah menjadi 'korban' dari invasi 4-2-3-1 dimana Chelsea, Manchester City, Arsenal, hingga tim yang (katanya) selalu siap menjadi juara liga musim depan, Liverpool, menggunakan formasi tersebut.
Kehadiran formasi ini sebagai cikal bakal possession ball dan jaminan lebih besar untuk menang bisa dilihat lewat skuad AC Milan di musim 2006-2007. Carlo Ancelotti mengubah formasi pohon cemara 4-3-2-1 miliknya dengan mengorbankan seorang attacking midfielder dan menggantinya dengan satu gelandang jangkar (holding midfielder). Massimo Ambrosini dan Andrea Pirlo saling melengkapi satu sama lain di lini tengah Il Diavolo Rosso ketika itu. Ambrosini bertugas mencegah siapapun yang berani masuk ke area pertahanan, sementara Pirlo lebih berfungsi sebagai pengirim bola-bola datar nan akurat ke lini depan. Efeknya pun terlihat dalam 5 tahun terakhir, keberhasilan Milan menjuarai UCL di tahun 2007 membuat formasi ini semakin merajalela dan klub sepakbola lain ramai-ramai menjadikan 4-2-3-1 sebagai formasi baku.
Tentu saja ini bukan kabar baik buat para traditional winger karena formasi ini lebih membutuhkan wide forwards, bisa juga disebut wide poachers, atau striker sayap, yang bertugas merangsek masuk ke kotak penalti lawan serta naik menyerang lebih tinggi ketimbang pemain sayap murni. Alhasil banyak pemain yang sejatinya adalah traditional winger mulai berevolusi menjadi wide forwards demi mengamankan satu posisi di tim inti atau sekedar menuruti kemauan pelatih. Cristiano Ronaldo, Theo Walcott, Juan Mata, Arjen Robben, hingga Marco Reus adalah contoh nyata evolusi ini. Tak cuma traditional winger, bahkan beberapa striker dan bek pun ikut berevolusi menjadi wide forwards! Lukas Podolski, Luis Suarez, dan Gareth Bale bisa menjadi bukti. Adapun satu nama yang menjadi unik di sini adalah Angel di Maria, karena dia bisa disebut mempunyai posisi ganda, dimana pria Argentina ini berperan sebagai winger maupun pemain sayap murni.
Sebetulnya keberadaan wide forwards sendiri justru merugikan para full-back ataupun holding midfielder karena tugas mereka menjadi lebih berat, yaitu menutup ruang di sisi kanan/kiri lapangan yang ditinggalkan begitu jauh oleh wide forwards. Namun ini belum seberapa dibanding para pemain sayap murni yang harus rela beradaptasi menjadi wide forwards atau bahkan lebih buruk, tergusur dari tim inti karena keberadaannya tak lagi dibutuhkan oleh pelatih.
Sepakbola modern menawarkan pergerakan yang lebih dinamis dan mereka para traditional winger mau tak mau harus mengikuti perubahan jaman. Kelahiran wide poachers bisa jadi titik balik bagi para traditional winger yang masih setia bermain melebar dan lebih suka mengirim crossing ketimbang menusuk secara diagonal ke kotak penalti lawan. Titik balik yang dimaksud di sini adalah bagaimana Jesus Navas dan kawan-kawan menyikapi keberadaan wide forwards dengan menganggap mereka sebagai intrik yang memberi dampak positif. Mereka, para pemain sayap murni, dihadapkan pada dua pilihan, yaitu berevolusi atau tetap menjadi diri mereka sendiri.
Pudarnya keberadaan traditional winger juga harus dicermati dan mereka tak bisa dilupakan begitu saja, karena kita tahu dulu terdapat banyak pemain berbakat dan melegenda yang mempunyai hobi mengobarik-abrik sisi samping lapangan. David Beckham (meski kini masih bermain), Marc Overmars, David Ginola, Hristo Stoichkov, Luis Figo, hingga George Best adalah figur penting yang menjadi simbol kesuksesan traditional winger. Apakah keberadaan para pemain sayap murni akan benar-benar hilang dalam beberapa tahun ke depan? I don't think so. Sepakbola masih membutuhkan esensinya dan keindahan umpan lambung serta skill mumpuni dari sisi sayap lapangan adalah bagian dari esensi tersebut. Ibarat konsol game, mereka para pemain sayap murni di sepakbola modern adalah PlayStation 2. Ditinggalkan karena dianggap mulai kuno, tapi sejatinya masih dibutuhkan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar