Kamis, 08 November 2012

Celtic Berpesta, Barca Merana

Celtic 2-1 Barcelona | Skotlandia
(Wanyama 21', Watt 83' - Messi 90+1')


When the aliens knocked down, Rod Stewart cries.

Melihat klub bernama FC Barcelona menguasai jalannya sebuah pertandingan dan menang dengan skor besar merupakan hal yang sangat, sangat wajar. Namun satu kekalahan saja yang didapat klub asal Catalan tersebut bisa menjadi perbincangan banyak orang selama seminggu, atau bahkan sebulan. Adalah tim penguasa liga Skotlandia, Glasgow Celtic, yang membawa Barca ke jurang kekalahan pertamanya musim ini pada matchday ke-4 Liga Champions. The Hoops membalas kekalahan atas Barca dua minggu lalu saat kalah 1-2 dengan skor yang sama.

Laga berjalan timpang dalam 20 menit pertama. Barca, yang memasang trisula utama mereka, Messi - Pedro - Alexis Sanchez, mendikte permainan Celtic dengan umpan-umpan pendek khas mereka, dan memperoleh persentase ball possession hingga angka 85 persen! Namun tuan rumah membalas 'training session' Los Cules dengan respon yang tak disangka-sangka. Sebuah sepak pojok di menit ke-23 berhasil dimanfaatkan Victor Wanyama yang bereaksi lebih cepat ketimbang Jordi Alba untuk menjebol gawang Victor lainnya, Valdés, dengan sundulan kepala terarah. Celtic 1-0 Barcelona.


Tertinggal, tak ada jalan lain buat Andreas Iniesta cs. Mereka tampil lebih menekan, menciptakan berbagai peluang berharga lewat kaki Lionel Messi dan Alexis Sanchez, dimana peluang keduanya masih 'diselamatkan' oleh tiang gawang. The Hoops berhasil mempertahankan skor dengan pertahanan yang kokoh hingga babak pertama berakhir.

Jalannya babak kedua pun tak jauh berbeda dengan babak pertama. Barca seolah bermain sendirian, nyaris tak ada serangan berarti dari tuan rumah. Sanchez kembali mendapat peluang, bahkan dua kali, dimana si pria Chile hanya bisa menyaksikan tendangannya berhasil ditepis Fraser Forster, yang bermain gemilang malam itu. Tak heran jika Forster pun akhirnya dipanggil oleh timnas Inggris untuk menghadapi Swedia pada laga uji coba tanggal 14 November 2012.

Pelatih Celtic melakukan pergantian pemain penting dengan memasukkan Anthony Watt untuk mengganti posisi Mikael Lustig. Keputusannya membuahkan hasil. Kesalahan Xavi dalam mengontrol bola di menit ke-83 berhasil dieksploitasi oleh Watt. Pemain berusia 19 tahun tersebut merebut bola dan melenggang sendirian sebelum mencetak gol untuk membawa The Hoops unggul 2-0. Raut wajah para pemain Barca setelah gol tersebut pun menunjukkan rasa cemas.


Gol konsolasi dari Messi di masa injury time pun seolah tak berarti karena tak cukup untuk mengejar defisit gol dari Celtic. Kemenangan yang bersejarah buat The Hoops mengingat mereka bermain di peringatan ulang tahun klub yang ke-125. Tak ada kado yang lebih indah daripada kemenangan atas Blaugrana. Para suporter dan pemain pun merayakan hasil ini layaknya mereka waktu memenangi Piala Eropa tahun 1967.

Rod Stewart, penyanyi pop-rock populer asal Inggris yang juga hadir di stadion pun tak kuasa membendung air mata kebahagiaan saat Bjorn Kuipers meniup peluit akhir pertandingan. Stewart yang merupakan die-hard fan The Hoops mengaku bahwa momen ini lebih membahagiakan ketimbang saat ia meraih Grammy tahun 2005 lalu. Terkesan hiperbolik memang, tapi wajar melihat kemenangan ini diraih tepat di perayaan satu seperempat abad berdirinya klub.

"Kami menang dengan usaha yang sangat keras. Saya hampir tak kuasa melihat Barca menggempur pertahanan kami selama 90 menit. Anak-anak (pemain Celtic) adalah para pahlawan saya, tanpa perjuangan mereka 3 poin ini tak akan tercatat dalam sejarah," ujar Neil Lennon, pelatih The Hoops. Lennon tak bisa menyembunyikan rasa puas yang terpancar di wajahnya, layaknya Barack Obama yang memenangi pemilihan presiden USA di hari yang sama.


Statistik laga sendiri menunjukkan kejomplangan antar kedua tim. UEFA mencatat bahwa Blaugrana unggul penguasaan bola mencapai 72 persen dibanding 28 persen milik tuan rumah. Perlu diketahui bahwa ini adalah persentase penguasaan bola tertinggi sepanjang sejarah UCL dimana tim yang melakukannya meraih kekalahan. Barca seolah tak belajar dari pertemuan kedua tim sebelumnya, dimana Celtic mengeksploitasi Barca lewat sejumlah set-piece bola mati, bahkan nyaris menang sebelum Jordi Alba memberi kekalahan buat Celtic di menit-menit akhir. Gol Wanyama yang tercipta lewat sepak pojok pun jadi bukti nyata bahwa Barca memang sangat rentan dibobol lewat situasi bola mati.

Tuan rumah juga lebih efisien dalam memanfaatkan peluang. The Hoops hanya melancarkan 4 shots on target, berbeda jauh dengan Barca yang melepaskan 14 tembakan ke gawang. Namun skor akhir berkata lain. Lini belakang tuan rumah juga bermain disiplin malam itu.


Tito Vilanova bereaksi wajar atas kekalahan ini. "Kami menafsirkan permainan dengan baik. Banyak peluang yang tercipta, namun kami tidak menyelesaikannya dengan maksimal. Pujian khusus buat kiper Celtic yang membuat para pemain kami kesulitan mencetak gol," kata Vilanova.

Overall, kredibilitas Celtic mengajarkan bahwa sebenarnya tim manapun bisa mengalahkan Barca, asal bermain konsisten selama 90 menit dan tak membiarkan Iniesta atau Xavi leluasa memberi umpan bak jalur pelangi yang memanjakan trisula Blaugrana. Mental juga berbicara. Georgios Samaras cs. tak merasa inferior dengan Barcelona, itulah yang membuat mereka bisa mempertahankan kemenangan. Terlepas dari pertandingan, sudahkah anda melihat teman, keluarga, atau bahkan anda sendiri yang menjadi fans Celtic setelah kemenangan ini?


   Man of the match: Fraser Forster.
   Honorable mentions: Lionel Messi & Tony Watt.

Celtic (4-4-2): Forster; Lustig (Watt 72'), Ambrose, Wilson, Matthews; Commons, Wanyama, Ledley, Mulgrew; Samaras (Kayal 79'), Miku.
Barcelona (4-3-3): Valdes: Dani Alves, Bartra (Pique 71'), Mascherano, Alba; Xavi, Song (Fabregas 71'), Iniesta; Sanchez (Villa 67'), Messi, Pedro.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar