"Dua puluh tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat. Jika anda masih remaja 27 tahun yang lalu, sekarang anda bisa saja sudah mempunyai cucu."
Rabu sore, tanggal 8 Mei 2013, saya tengah menonton serial televisi The Big Bang Theory sembari me-refresh timeline twitter ketika dibuat terhenyak oleh sebuah berita mengejutkan yang datang dari Manchester. Sir Alexander Chapman Ferguson, pelatih kontroversial sekaligus sukses yang membawa Manchester United menjadi salah satu klub raksasa Eropa dalam 20 tahun terakhir, mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: pensiun sebagai pelatih. Saya terdiam sepersekian detik, membiarkan timeline twitter banjir dengan ungkapan kaget dan kesedihan dari banyak fans United. Hashtag '#thankyousiralex' mendominasi trending topics. Wajah merah muda dengan rambut keperakan itu tak akan ada lagi berada di pinggir lapangan musim depan.
Hampir 27 tahun menangani MU, Ferguson membawa Setan Merah melewati torehan gelar liga milik Liverpool, rival abadi mereka. Tak hanya itu, Fergie menghadirkan masa keemasan bagi United, bahkan kesuksesan yang ia raih di era kepelatihannya tak akan dimakan oleh jaman. Ferguson membangun dinasti emas United dari bawah, dimana ketika ia datang ke Old Trafford pada tahun 1986, Red Devils terancam turun divisi berkat kinerja buruk Ron Atkinson.
Sisi kontroversial Fergie juga menjadi daya tarik tersendiri, dimana santer diberitakan bahwa ia punya kedekatan khusus dengan para wasit Premier League, sampai-sampai FA dicap sebagai kependekan dari Ferguson's Association. Tapi kenyataan di lapangan bicara lebih banyak, jumlah trofi dan deretan pemain legendaris yang bermain di United pada masa kepelatihannya adalah fakta yang tak bisa dibantah. Anda mungkin boleh membenci Fergie, tapi hati kecil Anda tak bisa mengelak pada kenyataan bahwa Ferguson adalah pelatih tersukses di era modern Premier League.
Sejak liga Inggris berubah format dari First Division menjadi Premier League pada musim 1992/93 hingga sekarang, Manchester United tak pernah finis di luar tiga besar berkat kinerja Ferguson. 13 trofi liga berhasil Ferguson raih selama Premier League digelar. Belum lagi 2 silverware Liga Champions dan 5 gelar FA Cup yang jelas sulit disaingi pelatih manapun. Total SAF mempersembahkan 38 gelar buat Setan Merah selama masa baktinya.
Akhirnya dinasti itupun harus rela ditinggalkan sang pendiri. Ferguson memutuskan pensiun setelah seperempat abad berbakti di Old Trafford. Berat buat jutaan fans United di seantero dunia memang, tapi jika bukan sekarang, kapan lagi? Fergie mungkin sudah jenuh mengunyah permen karet di pinggir lapangan tiap minggu, ia juga sudah kenyang asam garam di berbagai kompetisi level tinggi. Bahkan kabarnya ia ingin pensiun pada akhir musim lalu, namun gol historis Sergio Aguero ke gawang QPR membuat Fergie harus bersabar satu musim lagi.
Ferguson:
Dan pertanyaan ini pun muncul: siapakah yang akan menjadi suksesor Ferguson? Sejumlah nama menyeruak ke permukaan. Jose Mourinho, David Moyes, Juergen Klopp, hingga eks striker pujaan fans United, Ole Solskjaer jadi kandidat. Tapi satu nama telah dipilih, bahkan kabarnya oleh Fergie sendiri, sebelum keputusan pensiun Ferguson diumumkan. Sama-sama berasal dari Glasgow, Skotlandia, Moyes terpilih untuk melanjutkan kiprah seniornya di Theatre of Dreams.
Moyes bukanlah pelatih kacangan. Sebelas tahun melatih Everton, Moyes membuat The Toffees kerap merepotkan tim-tim papan atas dan mengganggu perjalanan mereka di liga. Sayangnya kemampuan Moyes hanya sebatas di level ini saja, karena manajemen Everton kurang mendukung kebijakan transfer Moyes (well, sebenarnya ini karena terbentur masalah budget) yang ingin menghadirkan pemain-pemain berkualitas supaya The Toffees bisa konsisten lolos ke Eropa. Namun di sinilah kecerdikan Moyes diuji. Ia mengakalinya dengan memanfaatkan pemain akademi atau membeli pemain dengan harga murah lalu dioptimalkan menjadi pemain mumpuni. Sekilas mirip dengan filosofi Ferguson di United, bukan?
Moyes: “I am delighted Sir Alex saw fit to recommend me for the job. I have great respect for everything he has done.”
Alih-alih kecewa karena bukan Mourinho yang menjadi pelatih baru Red Devils, fans United seharusnya bersyukur Moyes-lah yang ditunjuk menjadi suksesor SAF. Gaya melatih yang mirip, filosofi yang mengandalkan pemain muda, dan tak butuh waktu adaptasi lama karena sudah tahu seluk beluk Premier League secara rinci jadi faktor penting mengapa Moyes layak disebut bisa meneruskan kiprah emas Ferguson. Belum lagi sifat rendah hati dan jauh dari berita-berita negatif membuat pria bernama tengah William ini nampaknya tidak akan bertindak 'neko-neko' di musim pertamanya bersama pasukan Manchester Merah.
Tapi tetap saja, beban yang harus dipikul Moyes sangatlah berat. Manchester United adalah sebuah klub yang memiliki persepsi bahwa mereka harus mengakhiri musim dengan paling tidak sebuah gelar. Hal yang tak bisa diraih oleh Moyes selama melatih klub biru dari Liverpool. Penghambat lain adalah hubungan Moyes dengan Wayne Rooney. Sudah jadi rahasia umum bahwa relasi keduanya sempat memburuk ketika Rooney menuliskan hal yang kurang baik tentang pelatihnya semasa ia bermain di Everton dalam buku biografi yang ia tulis. Rumor kencang berhembus bahwa Rooney ingin dilego ke Bayern Muenchen, jadi patut dinanti langkah apa yang akan Moyes ambil soal masa depan Wazza di Old Trafford pada musim panas nanti.
Yang jelas, era emas Fergie sudah berpindah tangan. Moyes masih akan 'dibimbing' Ferguson yang akan duduk di kursi dewan direktur untuk beberapa musim depan. Sebuah perjudian yang diharapkan membawa Moyes menjadi pelatih asal Skotlandia ketiga yang sukses di Old Trafford setelah SAF dan seorang 'Sir' legendaris lainnya, Matt Busby.
Sebuah pekan mencengangkan yang menghadirkan optimisme baru (walau mungkin masih kecil) bagi fans United. Dibawa naik turun oleh kabar pensiun Fergie dan pertanyaan siapa penggantinya dalam beberapa hari terakhir, setidaknya para penggemar United bisa menghela nafas barang sejenak dan menikmati dua laga terakhir Fergie bersama United musim ini, dimana pertandingan terakhir melawan West Brom akhir Mei nanti akan menjadi laga ke-1.500 Fergie bersama MU. Sebuah angka yang tepat untuk mengakhiri masa kerja yang melelahkan nan memorable bagi sang gaffer.
The hardest part of ending is starting again. There's always be another hello after a goodbye. Let's say farewell to Sir Alex and please welcome another Scottish to the Old Trafford.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar